Home Indonesian Gejala Kena Mental Pada Anak

Gejala Kena Mental Pada Anak

1047
0

Istilah kena mental digunakan anak anak jaman now untuk melabeli teman bermain yang terkena serangan bulliying di dunia maya. Sejak belajar online saat pandemic, anak anak juga secara otomatis bermain bersama dengan temannya didunia maya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring, Mental masuk dalam kata Adjektiva yang memiliki arti bersangkutan dengan batin dan watak manusia, yang bukan bersifat badan atau tenaga.

Kena Mental merupakan istilah yang sering digunakan para pemain Mobile Legends untuk menjatuhkan mental lawan tandingnya. Perilaku tersebut merupakan bentuk psywar saat permainan berlangsung yang merupakan starategi untuk mengalahkan lawan. psywar atau biasa disebut perang urat syaraf adalah suatu bentuk tindakan serangan yang dilancarkan menggunakan metode psikologi dengan tujuan membangkitkan reaksi psikologis seseorang agar mudah dikalahkan.

Semakin sering anak anak mengalami perilaku kena mental maka dapat menyebabkan terjadinya gangguan mental. Gangguan mental atau penyakit mental biasanya terjadi pada orang dewasa. Namun kondisi hari ini gangguan mental semakin meluas dialami anak anak. Bila hal tersebut terjadi pada anak anak maka dapat mengganggu tumbuh kembang mentalnya. Menurut Centers for Disease Control and Prevention, penyakit mental pada anak adalah keterlambatan atau gangguan dalam perkembangannya.

Apa Saja Gejala Atau Tanda Penyakit Mental Pada Anak?

Gejala pertama yang mudah kita lihat adalah perubahan yang terjadi pada emosi anak. Anak cenderung memiliki emosi yang tidak stabil atau baperan (bawa perasaan). Tersinggung sedikit sudah meledak emosinya. Tidak bisa menyelesaikan tugas sudah putus asa. Gagal setelah mengerjakan ujian sudah menangis. Diejek temennya sedikit sudah ngambek.

Yang kedua adalah sulit beradapatasi dengan lingkungan baru disekitarnya. Anak cenderung merasa cemas saat keluar rumah atau berada ditempat yang baru. Bahkan saat bertemu dengan saudara, guru atau teman anak merasa cemas. Ketika anak berada ditempat yang ramai dia juga merasa ketakutan karena sulit untuk menyesuaikan diri dengan berdapatasi.

Yang ketiga adalah anak tidak percaya diri. Muncul perilaku anak yang tidak percaya pada dirinya. Ketika berbicara dengan orang dewasa hanya diam saja. Meskipun paham dengan bahasa yang disampaikan namun anak merasa tidak percaya diri untuk menjawab dengan berdiskusi secara langsung. Anak juga tidak berani untuk menunjukkan hasil karya atau pekerjaannya kepada guru, teman atau orang lain.

Yang keempat adalah anak mengalami obesitas atau kegemukan. Perilaku merasa nyaman berada dirumah membuat anak cenderung malas untuk bergerak. Ketika ada banyak pekerjaan rumah anak merasa malas atau mager (malas gerak). Segala kebutuhan makan dan minumnya ingin siap saji tanpa mau tau proses membuat hingga menyelesaikannya. Kegiatan membersihkan kamar, mencuci piring, menata meja belajar semua diabaikan. Yang dia lakukan hanya makan dan terus makan.

Yang terkahir adalah anak mengalami psikosomatis. Perasaan cemas, takut, gelisah, tidak percaya diri sehingg emosi menjadi labil menyebabkan beberapa gejala fisik. Gejala fisik tersebut antara lain sakit kepala, perut mual, mules, maag, diare, demam, jantung berdebar, sulit untuk tidur yang menyebabkan tumbuh kembang anak mengalami hambatan.

Apa Penyebab Anak Kena Mental?

Penyebab secara khusus kena mental pada anak adalah game online. Intesitas anak yang berlebihan ketika bermain online bersama teman temannya menyebabkan mereka mudah kena mental. Tidak adanya control dari orang tua, penyedia aplikasi game atau kebijakan pemerintah yang mengatur perilaku anak anak permain game membuat perilaku kena mental menjadi semakin tinggi. Hingga saat ini secara umum beberapa penelitian mengindikasikan bahwa adanya kombinasi antara faktor biologis, keturunan, trauma, dan stres saat bermain game online bisa menjadi penyebabnya.

Bagaimana Cara Meningkatkan Perkembangan Mental Pada Anak?

1. Bangun keluarga yang harmonis

Keluarga yang memiliki anggota keluarga yang solid, kompak dan harmonis akan mampu menyelesaikan segala permasalahan yang dihadapi oleh semua nggota keluarganya. Dukungan ayah, ibu, dan saudara sangat penting dalam menyelesaikan konflik yang ada.

2. Manajemen konflik yang baik

Orang tua memberikan contoh kepada seluruh anggota keluarga dalam menyelesaikan setiap permasalahan yang ada. Bila orang tua mampu menyelesaikan permasalahan dengan cara yang baik maka seluruh anggota keluarga akan memiliki contoh keteladanan dalam menyelesaiakan permasalahannya.

3. Melakukan observasi dan diagnosis yang tepat

Ketepatan dalam melakukan observasi dan diagnosis yang akurat sangat membantu anak dan orang tua untuk menyelesaikan permasalahan. Bila salah dalam melakukan diagnosis tentu akan membuat kesehatan mental anak menjadi semakin buruk. Karena itu segera mencari informasi yang benar tentang gangguan mental yang diderita anak.

4. Melakukan Pola Hidup Sehat

Menjaga kesehatan fisik dapat membantu menyehatkan mental. Biasakan anak untuk mengkonsumsi makanan sehat. Membiasakan makanan yang halal, sehat dan bergizi setiap harinya, seperti buah, sayuran, ikan, daging dan susu. Melatih anak untuk aktif bergerak dengan berolahraga setiap hari sangat bagus membantu motoriknya. Dan kedisplinan untuk mengatur jadwal istirahat membantu anak tertib dalam kegiatan sehari hari.

Mental yang sehat tumbuh dan berkembang secara baik menjadikan anak lebih bersemangat. Anak memiliki kemampuan berinteraksi membangun hubungan yang baik dengan lingkungannya. Anak memiliki konsentrasi yang bagus dalam belajar. Anak juga mempunyai kemampuan manjemen konflik yang baik.

Sehingga anak-anak tumbuh dewasa dan hidup bahagia bersama keluarganya.

Previous articlePermasalahan Tumbuh Kembang Pada Anak Kembar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here