Home Indonesian Kesulitan Anak Usia 7 Tahun Beradaptasi Dikelas Baru

Kesulitan Anak Usia 7 Tahun Beradaptasi Dikelas Baru

59
0

Anak X sudah satu minggu tidak masuk kelas. Dia sering menangis, rewel tidak mau masuk kedalam kelas mengikuti kegiatan belajar. Dia mau masuk kelas bila diberikan mainan leggo. Setelah 30 menit bermain lego diruangan khusus, anak X mau diajak masuk oleh gurunya. Ketika ditanya guru, kenapa tidak mau masuk kelas?, anak X hanya menggelengkan kepalanya. Tidak ada satu kata keluar dari mulutunya. Anak X hanya mau bermain leggo bila ingin masuk kelas. Jadi untuk masuk kelas harus ada syaratnya bermain terlebih dahulu. Ketika keinginan anak X diberikan makan muncul syarat baru berikutnya. Inti dari syarat yang disampaikan anak X supaya bisa menunda waktu untuk langsung masuk kedalam kelas.

Dengan keluhan diatas, kita melakukan observasi psikologis untuk mengungkap permasalahan yang sedang dihadapi anak X. Setelah dua minggu melakukan observasi, kita menemukan beberapa perilaku yang berbeda. Perilaku berbeda tersebut antara lain ; setiap masuk kelas anak X harus dituruti keinginannnya, kemudian baru mau masuk setelah satu jam. Anak X sangat suka bermain leggo,dan Anak X suka minta dibelikan makan atau jajan sebelum masuk kelas .

Bagaimana kondisi anak X?

Anak X sebenarnya memiliki perkembangan cukup bagus dengan kapasitas keceradasan standar serta didukung kreatifitas yang tinggi. Namun anak X sering merasa insecure berada dilingkungan baru. Dia Nampak tidak percara diri, kurang mandiri dalam bertindak atau menyeselsaikan tugas baru dalam situasi yang baru. Hal ini membuat dirinya kurang cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Anak X memiliki kelemahan dalam mengendalikan emosinya. Anak X cenderung memaksakan diri ketika menginginkan sesuatu yang harus didapatkannya. Bila tidak mendapatkan sesuatu yang diingankan maka dia akan tantrum.

Apa permasalahannya?

Sikap anak X yang rewel sebelum masuk kelas adalah cara yang ditunjukkan untuk mendapatkan perhatian lebih dari orang tua yang mengantarnya. Selain itu kebutuhan afeksi anak atau perasaan ingin disayangi sangat kurang saat dirumah. Hal ini menunjukkan ada relasi antara anak X dengan kedua orang tua yang kurang harmonis disertai kurang adanya dialog antar anggota keluarga

Bagaimana cara membantunya?

Orang tua wajib bekerjasama untuk melaksanakan pola asuh baru yang sudah diperbaiki dan dievaluasi. Orang tua harus bisa berkomunikasi dan berdialog dua arah serta tanya jawab bersama anak X agar lebih memahami apa yang di inginkan anak X. Ajak anak X keluar rumah untuk mengunjungi tempat umum, tempat hiburan, tempat olah raga dan beberapa tempat baru agar terbiasa untuk cepat beradaptasi dan menyesuaikan diri. Untuk menyalurkan kegemarannya bermain lego, orang tua dapat mendampingin anak saat membeli permainan tersebut. Biasakan anak X untuk tidak sedirian saat bermain lego. Harus ada teman atau orang yang diajak berbicara atau berdiskusi tentang permainan lego. Keberadaan teman atau orang ini dapat digunakan untuk menstimulasi anak X agar mampu berkompetisi , bersaing , berbagi, berdiskusi dan berdaptasi dengan orang baru. Pola kegiatan baru untuk anak X harus didampingi oleh orang tua dan tenaga ahli. Kegiatan baru ini dilakukan secara bertahap, sesuai dengan proges dan anak X. bila sudah ada perubahan terhadap perilaku anak X maka kegiatan baru harus dilanjutkan secara displin agar bisa mencapai hasil yang masksimal.

Previous articleKisah Anak Indigo Part 2 | Ayahku Tidak Pernah Mati
Next articleKebiasaan Anak Saat Tidak Mau Belajar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here