Home Addicted Internet Gaming Disorder: Gangguang Mental Pada Anak Selama Pandemi

Internet Gaming Disorder: Gangguang Mental Pada Anak Selama Pandemi

76
0

Sebut saja Free Fire, Fortnite, Mobile Legends: Bang Bang, PUBG Mobile, Genshin Impact, Roblox, Subway Surfers, Growtopia, Apex Legends, Pokémon Unite, Pou, My Talking Tom, Minecraft, Bus Simulator Indonesia, FIFA 21, Castle Clash, Angry Birds, Among Us, Hill Climb Racing, Slither.io, Piano Tiles, Candy Crush, Hungry Shark World, Sakura School Simulator, Clash Royale dan Clash of Clans. Bisa dipastikan anak anak akan bereaksi dengan heboh saat bermain game tersebut, terlepas dari apakah game tersebut offline atau online dan game RPG atau game Simulation atau game Action (RTS / FPS) dan jenis game game yang lain lainnya. Anak- anak pasti akan cenderung senang dan sangat terhibur ketika memainkan game tersebut. Ada yang teriak teriak, ada yang langsung berkomentar, ada yang sangat bersemangat, ada yang wajahnya langsung berseri seri dan ada yang bersorak dengan gembira. Itu adalah respon secara umum anak anak saat ini. Bila kita berbicara tentang game online dengan sangat antusias mereka akan meresponnya.

Bagimana Internet Gaming Disorder bisa terjadi?

Kondisi belajar online menjadi jalan pintas anak bisa mengakses game online secara bebas. Dengan beragam alasan, mulai dari bosan, jenuh, malas, dan tidak menarik jika hanya belajar online saja. Orang tua akhirnya memberikan ijin bermain game online saat jeda jam istirahat. Orang tua berpendapat untuk menghilangkan kejenuhan dan kebosanan ketika anak belajar online. Karena anak tidak bisa bertemu dengan teman temannya langsung, maka bermainnya secara online saja. Goalnya menjadi hal yang wajar jika saat anak anak belajar online maka saat jam istirahat, bermain dengan teman temannya juga online. Tanpa disadari orang tua, anak anak kita masuk kedunia game online.

Apa dampak game online bagi anak?

Sejak game online diciptakan hingga hari ini tidak ditemukan positif pada anak. Bahkan juara dunia game online yang menghasilkan pretasi seserta hadiah uang milyaran rupiah berakhir pada gangguan mental. Gangguan mental tersebut adalah internet gaming disorder.

Hingga kami menulis artikel inipun sangat sulit menemukan data berapa jumlah penderita internet gaming disorder. Namun melihat dari jumlah pengguna game online kita bisa menarik asumsi berapa estimasi jumlah penderita internet gaming disorder. Kita ambil contoh satu game popular fre fire, Free Fire telah mencetak rekor dengan lebih dari 100 juta pengguna aktif harian yang ada di seluruh dunia. Data tersebut hanya sampling satu game saja dan belum game yang lainnya. Apabila 1% pengguna game online diasumsikan menderita internet gaming disorder, maka ada 1 juta anak yang masa depannya sedang dalam bahaya.

Meskipun WHO menyatakan gaming disorder sebagai gangguan kejiwaan, faktanya tidak banyak orang tua yang tahu kondisi anaknya yang sedang mengalami internet gaming disorder. Dampaknya seseorang yang mengalami kecanduan terhadap game online atau video berbasis internet sangat FATAL. Anak yang mengalami adiksi, di samping mengalami kerusakan secara fisik juga mengalami perubahan struktur dan kerusakan fungsi otak secara permanen.

Apa saja gejala pada anak yang mengalami internet gaming disorder?

Secara umum dampak kecanduan game online ada tiga, yang pertama adalah kerusakan pada fungsi otak, yang kedua adalah kerusakan pada fungsi fisik dan yang ketiga adalah kerusakan mental pada anak. Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5), internet gaming disorder memiliki Kriteria ciri ciri sebagai berikut:
  1. Keasyikan dengan permainan internet, internet gaming menjadi aktivitas utama sehari-hari.
  2. Tanda-tanda menarik diri ketika internet gaming dijauhkan darinya.
  3. Toleransi, kebutuhan untuk menambah jumlah waktu untuk internet gaming.
  4. Gagal untuk mengontrol ketergantungan diri di dalam internet gaming.
  5. Kehilangan ketertarikan terhadap hobi dan kesenangan sebelumnya kecuali internet gaming.
  6. Berkelanjutan secara berlebihan menggunakan internet gaming meskipun mengetahui dampak psikososial yang ditimbulkan.
  7. Berbohong terhadap keluarga dan terapis menyangkut lamanya bermain internet gaming.
  8. Menggunakan internet gaming untuk melarikan diri dari mood negative (seperti merasa tidak berdaya, bersalah, dan cemas).
  9. Memiliki hubungan yang membahayakan atau hampir kehilangan semangat belajar, teman, atau kesempatan berprestasi karena keterlibatannya dalam internet gaming.
  10. Menjadi sering berkata kotor dan kasar serta berubahnya perilaku anak dikarenakan dampak dari salahnya pergaulan dengan player lain dalam game yang perilakunya menyimpang serta kurangnya pengawasan dari orangtua saat anak bermain game
Bila anak kita sudah memiliki ciri perilaku diatas maka sebagai orangtua kita harus memiliki kepedulian untuk menyelamatkan masa depan mereka.

Bagiamana orang tua bersikap?

Berikan figure, teladan dan contoh pada anak dan keluarga kita cara bijak menggunakan media internet. Selanjutnya lakukan pendekatan kepada anak secara intensif karena mereka membutuhkan teman untuk bermain. Kehadiran orang tua sangat dibutuhkan anak hari ini. Jangan biarkan anak anak kita merasa kesepian, sendirian dan tidak ada yang menemani. Temani anak kita bermain, temani anak kita bercerita, temani anak kita berbicara, temani anak kita berpetualang dalam dunianya. Bila orang tua sudah ada dihati anak, maka game online bukan hal yang menarik bagi anak. Karena yang paling menarik dan membuat mereka bersemangat adalah bertemu dengan kedua orang tuanya dan menghabiskan masa kecil dengan penuh kebahagian.

Previous articleThe Power Of Starting Action With A Positive Word
Next articleMental Hectic in Children | Question and Answer

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here