Home Uncategorized Toxic Relationship Pada Anak, Ini Penyebabnya

Toxic Relationship Pada Anak, Ini Penyebabnya

626
0

Bertemu dengan teman bermain adalah hal yang menyenangkan. Anak bersemangat menunggu tiba waktu bermain untuk bisa bertemu dengan teman temannya. Meskipun permainan yang dilakukan sama dan bertemu dengan orang yang sama, anak anak tidak merasa bosan bertemu dengan teman temannya.

Ketika anak bermain, teman adalah orang yang paling dinantikan dan ditunggu. Karena tanpa ada teman maka permainan sebagus apapun menjadi tidak menarik. Dalam bermain anak memiliki beberapa jenis teman. Ada teman didalam rumah, ada teman diluar rumah, ada teman disekolah, ada teman di les privat, dan ada teman di dunia maya. Apapun jenis permainan anak, di manapun anak  bermain, pasti dia akan bertemu dengan teman teman baru. Semakin banyak jenis permainan anak maka semakin banyak teman baru berdatangan.

Selain mempunyai teman yang disukai, seorang anak juga memiliki teman yang tidak dia sukai. Dalam sebuah permainan kondisi seperti itu adalah hal yang wajar. Ada yang menang dan ada yang kalah dalam sebuah permainan adalah hal yang normal. Dari pengalaman berinteraksi dengan teman di rumah, disekolah atau didunia maya, seorang anak akan mempunyai pengalaman senang atau sedih bersama dengan temannya.

Bagaimana berteman dengan baik ?

Menjadi teman yang baik harus mengenal dengan dekat siapa anak tersebut. Mengenal siapa orang tuanya, mengenal siapa sudaranya, mengenal kesenangannya, dan mengenal kebiasaannya. Jadi syarat pertama menjadi sahabat yang baik adalah mengenal dengan jelas siapa teman kita. Yang kedua adalah memahami kondisi, situasi dan keadaan teman. Bila kita berteman dengan anak dirumah maka kita harus tahu kondisi dirumah, bila kita berteman dengan teman disekolah kita harus tau kondisi sekolah.

Ke tiga kita harus mampu memilih dan memilah dengan siapa kita bisa berteman secara berkelanjutan.

Mencari teman yang baik dan menjaga diri dari teman yang tidak baik adalah cara yang efektif untuk mendapatkan teman. Teman yang baik berasal dari keluarga yang baik dan teman yang tidak baik berasal dari keluarga yang tidak baik. Ke lima menghormati, menghargai kekurangan dan kelebihan teman. Ke enam bersikap tegas untuk menjaga diri dari teman yang membawa pengaruh negative dengan meninggalkannya secara baik. 

Bagaimana toxic relationship terjadi ?

untuk menjaga kesehatan tubuh maka kita harus menerapkan pola hidup yang sehat dengan membiasakan diri untuk mengkonsumsi menu makanan yang sehat dan seimbang. Bila kita tidak memiliki pola makan yang sehat maka berdampak pada kondisi tubuh. Semua makan dan minuman kita konsumsi dengan sesuka hati tanpa ada batasan mengikuti pola makan bebas dapat menyebabkan menumpuknya racun dalam tubuh sehingga menyebabkan penyakit yang kronis.

Begitu pula dengan berteman, bersahabat dan berhubungan dengan orang disekitar kita. Bila kita sembarangan dalam berinteraksi, sembarangan dalam berteman , sembarangan dalam bersahabat, dan bebas tanpa ada batasan dalam besosialisasi maka akan menyebabkan dampak buruk dalam diri kita. Dampak buruk itu disebut toxic relationship.

Toxic relationship berawal dari masa tumbuh kembang anak anak saat bersosialisai dengan lingkungannya.

Anak tidak memilki pola berteman dengan baik, anak tidak diberikan contoh, dan diarahkan agar bisa memilih teman yang baik. Anak dibiarkan berteman dengan siapapun, siapa yang dia suka bisa dijadikan teman, tidak peduli baik atau buruk teman itu. Semakin bebas pola berteman seorang anak makan semakin tinggi tingkat toxic relationship yang akan dirasakannya dikemudian hari.

Bagiamana mendetox toxic relationship?

Pengasuhan orang tua yang tepat mampu memberikan pengalaman bagaimana anak bisa mendapatkan sahabat dengan pola berteman yang sehat. Keluarga dengan pola hubungan yang sehat akan menghasilkan perilaku anak yang baik.

Dengan membiasakan anak mengembangkan pola berteman yang sehat maka akan menguatkan kemampuan anak untuk bisa memilih dan memilah teman yang baik untuk dirinya.

Ketika pembiasaan pola berteman yang sehat ini dilakukan secara terus menerus akan menjadi perilaku (karakter) pada diri anak. Sehingga ketika sudah matang seorang anak yang rumbuh menjadi dewasa akan memiliki filter secara internal pada dirinya. Sehebat apapun toxic relationship yang ada dan dihadapi akan mudah di detoxsifikasi.

Sahabat yang terbaik adalah sahabat yang membawa kebaikan di dunia dan di akhirat.

Previous articleTips Merawat Indra Manusia
Next articleWajib Tahu, Pentingnya Memahami Tumbuh Kembang Anak

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here