Home Uncategorized Petak Umpet di Kamar Mandi

Petak Umpet di Kamar Mandi

622
0

Beradasarkan informasi yang disampaikan orang tua, guru dan pihak sekolah. Alex tidak pernah selesai mengerjakan tugas sekolah dan perhatiannya mudah beralih pada situasi disekitarnya. Alex anak usia 8 tahun selalu menghindar saat harus menyelesaikan tugasnya.

Bila ditanyakan guru kenapa belum selesai?, maka alex hanya diam saja. Saat guru mengejar lagi dengan pertanyaan yang sama maka alex hanya diam saja. Setelah guru berhenti bertanya, Alex meminta ijin ke gurunya untuk kekamar mandi. Hingga pelajaran selesain dan waktunya pulang sekolah, alex belum juga kembali kedalam kelasnya. Karena guru tidak menemukan Alex, maka guru menelpon orang tua untuk menenanyakan apakah sudah dijemput. Namun informasi dari orang tua, alex belum pulang kerumah.

Guru kemudian berkoordinasi dengan petugas kebersihan sekolah, untuk mencari Alex keseluruh ruangan. Karena terakhir ijin kekamar mandi maka petugas kebersihan mencarinya dikamar mandi.

Alhamdulillah setelah beberapa menit akhirnya alex ditemukan di kamar mandi lantai 2.

Petugas kebersihan beberapa kali mengetok pintu kamar mandi paling ujung dilantai 2 tetap saja tidak ada jawaban. Petugas kebersihan menduga alex ada dikamar mandi ini karena saat dibuka pintunya ditutup dari dalam. Petugas kebersihan juga mendengar ada suara air yang dinyalakan dan dimatikan dari dalam kamar mandi.

Setelah petugas  berusaha beberapa kali untuk meminta alex membuka pintu kamar mandi, tetap saja dia tidak mau membukanya. Akhirnya petugas secara terpaksa membongkar pintu kamar mandi agar bisa menemukan Alex. Akhirnya petugas menemukan alex berada didalam kamar mandi dengan posisi duduk di toilet. Kejadian ini selalu berulang kembali saat alex tidak dapat menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru.   

Bagaimana perilaku tersebut bisa terjadi ?

Berdasarkan hasil observasi psikoligis diperoleh data bahwa dia pernah menjalani operasi telapak tangan sebelah kanan. Operasi ini dilakukan karena adanya virus virucae palma yang membuat benjolan yng mengeras ditelapak tangan (sejenis mata ikan). Setelah selesai menjalani operasi tersebut,

Alex didiagnosa salah seorang dokter rehabilitasi medic mengalami gangguan sensori motorik.

Akibat dari gangguan ini seringkali Alex menekan ketika menulis di buku atau tidak merasa sakit ketika disuntik. Kemudian dokter melakukan terapi agar dapat membantu Alex melatih kepekaan anggota tubuhnya (tangannya) terhadap permukaan suatua benda. Kondisi inilah yang menjadi salah satu penyebab Alex sering tidak selesai saat mengerjakan tugas menulis atau tugas yang lainnya.

Secara kognitif, Alex memiliki kemampuan yang cukup baik. Dia memiliki pemahaman, atensi, dan memori yang cukup baik. Alex cukup mampu memahami setiap intruksi yang diberikan oleh guru. Alex juga mempunyai kemampuan untuk mengingat 7 dari 10 gambar yang diberikan guru, namun dia mengalami kesulitan dalam kemampuan integrasi, yaitu kemampuan untuk melihat secara keseluruhan, bukan perbagian. Alex memiliki kemampuan yang baik dalam mengelola impuls yang ada dengan control rasional. Namun memiliki permasalahan pada afeksinya yang menyebabkan Alex lebih banyak focus mengikuti perasaannya daripada akal sehatnya (Kognisi). Konflik ini mengakibatkan Alex mengalami hambatan dalam mengekspresikan perasaannya secara terbuka.

Alex sebenarnya memiliki motivasi yang besar untuk belajar, namun dorongan tersebut tidak muncul saat ada kehadiran orang tua disampingnya.

Dominasi kedua orang tua membuat Alex menjadi kecil hati. Dia tidak mau mengeluarkan kemampuannya sebenarnya saat ada disekolah. Alex terbiasa selalu dibantu dalam menyelesaikan tugasnya, seperti menulis dikelas, mengambil makanan saat dirumah, sehingga membuat dia malas melakukannya. Kendali orang tua saat dirumah menjadikan Alex kurang memiliki inisiatif, sehingga saat ada tugas yang belum selesai dia memilih kabur kekamar mandi dan menunggu sampai orang tuanya dating menjemputnya. 

Bagaimana cara membantu Alex ?

Melihat, membaca dan mengetahui hasil observasi diatas kita bisa mengambil beberapa cara untuk membantu Alex.  Pertama untuk membantu kemampuan menulisnya, dilakukan terapi fisioterapi dan okupasi agar dapat mengembalikan fungsi tangannya kembali normal dan bisa digunakan dengan baik.

Kedua, untuk membantu Alex mengendalikan emosinya saat gagal menyelesaikan tugas kita bisa memberikannya terapi SEFT agar dia bisa lebih mengendalikan dirinya.

Ketiga merubah pola asuh orang tua yang otoriter dan selalu membantu anak menjadi polas asuh yang terbuka dan memberikan kepercayaan kepada anak untuk menyelesaikan tugas sesuai dengan kemampuannya.

Yang terakhir memberikan masukan kepada sekolah untuk membuat pintu toilet yang aman dan bisa dibuka dari luar saat kondisi darurat seperti kejadian yang dialami Alex

Previous articlePerlu Dihindari, Ini Dia Dampak Negatif Helikopter Parenting
Next articlePola Asuh Keluarga Alternatif

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here