Home Uncategorized Penyebab OCD Pada Anak Usia Dini

Penyebab OCD Pada Anak Usia Dini

747
0

Setiap bermain ada hal-hal kecil yang biasa diributkan anak anak. Permasalahan ini dapat disebabkan karena tidak cocok dengan temannya. Berebut mainan yang sama dengan punya teman. Mengolok olok teman saat kalah dalam permainan. Ada juga kontak fisik bersenggolan dengan temannya saat bermain.

Keribut kecil ini adalah hal yang wajar terjadi pada anak anak. Karena satu menit kemudian mereka sudah berdamai dan bermain lagi dengan temannya. Satu menit kemudian konflik lagi dengan teman yang lain. Kejadian ini adalah hal yang normal terjadi pada anak saat bermain dan berinteraksi. Anak  sedang dalam proses belajar untuk memahami perbedaan dengan temannya. Anak belajar untuk mengerti permasalahan dengan lingkungannya. Anak belajar menemukan solusi untuk menyelesaikan permasalahannya secara mandiri.

Apa Itu OCD Pada Anak?

Obsessive Compulsive Disorder (OCD) adalah salah satu bentuk gangguan kecemasan yang ditandai dengan sikap perfeksionis dan terobsesi pada sesuatu secara berlebihan. Gangguan OCD ini bisa dialami oleh anak anak.

Mengutip American Psychiatric Association, menjelaskan bahwa OCD adalah gangguan kecemasan yang dapat membuat seseorang memiliki pikiran atau sensasi kuat yang tidak diinginkan.

Hingga membuat seorang anak merasa harus melakukan satu aktifitas secara berulang-ulang. Bila tidak dilakukan, penderita OCD akan diliputi perasaan cemas dan ketakutan. Gangguan OCD yang terjadi pada anak memiliki gejala yang hampir sama dengan orang dewasa.

Menurut International OCD Foundation, gangguan OCD pada anak bisa terjadi pada anak dari segala usia. Meski demikian pengalaman dilapangan, gejala yang sering muncul pada anak pertama kalinya ketika anak kelas 3 atau berusia antara 9-12 tahun.

Bagaimana Obrsevasi Dan Diagnosis OCD Pada Anak ?

Langkah-langkah mendiagnosis OCD adalah dengan melakukan observasi psikologis dan juga pemeriksaan fisik. Hal dilakukan untuk membantu menemukan pencetus yang menyebabkan gejala dan untuk memeriksa permasalahan yang terjadi. Hasil observasi psikologis dan diagnostik untuk OCD harus mengacu pada Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental (DSM-5), yang diterbitkan oleh American Psychiatric Association. Saat mengobservasi kondisi psikologis anak, termasuk mengamati pola perilaku, komunikasi dan interakasi. Selanjutnya dilakukan diagnose secara fisik melalui tes darah lengkap (CBC) di laboratorium utntuk memeriksa fungsi tiroid, dan skrining alkohol dan obat-obatan.

Bagaimana Hasil Observasi dan Diagnosa Pada Alex ?

Berbeda dengan anak pada umumnya. Alex adalah anak yang sangat sensitive. Tidak mudah bagi alex untuk memahami berbedaan kecil yang terjadi saat berinteraksi dengan teman temannya. Setiap hal kecil akan menjadi permasalahan yang besar dan cukup serius bagi Alex.

Seperti kejadian saat kegiatan praktikum science (IPA). Ada teman yang bercanda setelah selesai praktikum memanggil Alex dengan sebutan simpanse. Sontak terjadi adu mulut kemudian berlanjut menjadi adu fisik hingga dilerai oleh guru yang mendampinginya.   

Kondisi seperti ini terjadi pada Alex beberapa kali, sehingga dilakukan pendampingan untuk membantu menyelesaikan permasalahan Alex. Sebelum melakukan terapi pada Alex, kita tegakkan dulu diagnose dan observasi psikologis. Hasil observasi terhadap Alex diperoleh data sebagai berikut;

  1. Kemampuan visual motoric Alex lebih dominan dibandingkan dengan kemampuan komunikasi verbal.
  2. Alex tergolong kurang bisa menahan diri untuk memberikan reaksi fisik secara langsung saat dihadapkan pada situasi yang menganggung perasaannya .
  3. Alex melakukan aktivitas yang cenderung antisosial karena kurang mampu menyelesaikan permasalahan yang bersifat konkrit secara tepat.
  4. Memiliki kecenderungan mudah curiga dengan situasi yang dihadapi.
  5. Perilakunya cenderung menantang (opposional disorder), melawan dan bersebrangan dengan perilaku anak anak lain seusianya.
  6.  Tidak mampu memandang permasalahan secara realistic
  7. Cenderung cepat bereaksi tanpa disertai oleh pemikiran yang matang (impulsive).
  8. Kurang bisa mengendalikan diri disaat menghadapi situasi yang memancing emosinya.
  9. Kemampuan penyesuaian social dan daya toleransi terhadap kondisi yang dimiliki teman sangat kurang. Sehingga tidak terjalin hubungan yang dekat dengan teman sebaya.
  10. Alex tidak bisa menerima figure Ayah yang dikenal sebagai sosok yang tidak bisa menahan emosi.
  11. Ayah Alex cenderung mudah menghukum tanpa pemberian informasi yang mendukung.
  12. Model pembelajaran pengelolaan emosi yang diperoleh dirumah sangat rendah.
  13. Tidak ada gangguan neurologis akibat obat obatan atau dari sumber permasalahan belajar yang dialami Alex

Bagaimana Penanganan OCD Pada Alex ?

Pendekatan perawatan atau treatment yang dilakukan untuk kasus yang terjadi pada Alex adalah dengan terapi perilaku. Melatih perilaku Alex untuk merespon kata kata negative seperti, “kamu simpanse” dengan respon diam. Dalam kondisi diam Alex dilatih untuk mengendali dan mengontrol pernafasan secara rilex. Tidak terengah engah atau kondisi jantung berdetak kencang.

Merubah perilaku ini dilakukan secara bertahan dan berkelanjutan secara disiplin dan konsisten. Pada awalnya Alex tidak langsung mempu melakukan. Alex merasa seluruh tubuhnya gemetar atau tremor. Mulai dari tangan, badan dan kaki terasa gemetar saat menerima perlakuan negative temannya.

Ketika Alex sudah merasa tidak mampu, dia langsung meninggalkan kelas dan meminta bantuan guru pendamping.
Kejadian yang dialami Alex dikelas selama satu bulan Alhamdulillah membuahkan hasil. Tidak ada kontak fisik dengan teman sekelasnya. Alex mulai mampu merespon situasi yang tidak menyenangkan hatinya dengan tenang. Kemampuan Alex dalam berkomunikasi juga berkembang cukup bagus. Dan kondisi dalam kelas berangsur angsur menjadi normal kembali.    

Kondisi ini juga didukung oleh keluarga Alex. Ayah dan Ibu Alex sangat bersemangat dan antusias mendukung perubahan perilaku anaknya. Hal ini tidak terjadi dengan tiba tiba, namun orang tua juga secara bertahap merubah perilaku yang emosional saat berinteraksi dirumah. Ayah sangat mengerti bahwa perilaku emosional yang dilakukannya dapat menyebabkan dampak buruk pada perilaku Alex saat ini.

Ketika OCD terjadi pada anak anak masih ada kesempatan lebih awal dan lebih mudah untuk merubahnya sebelum anak anak menjadi dewasa dan perilaku OCD sudah menetap.

Tidak ada kata terlambat bagi anak dan orang tua untuk berubah menjadi lebih baik.    

Previous articlePenyebab Kesulitan Berbahasa Pada Anak
Next articlePerlu Dihindari, Ini Dia Dampak Negatif Helikopter Parenting

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here