Home Uncategorized Kenapa Kita Malas Saat Belajar Daring dan Bagaimana Cara Mengatasinya

Kenapa Kita Malas Saat Belajar Daring dan Bagaimana Cara Mengatasinya

656
0

Belajar Daring dan Mager

Cukup lama anak anak kita belajar daring setiap harinya. Ada yang dua jam sehari, tiga jam sehari dan bahkan ada yang lima jam sehari. Untuk usia remaja atau mahasiswa durasi yang lama didepan laptop atau online tidak memiliki dampak yang mengkhawatirkan. Karena mereka sudah tuntas kebutuhannya saat masih anak anak. Berbeda dengan belajar daring pada usia anak anak yang tidak tahan lama lama duduk dengan tenang dan fokus didepan laptop. Mereka lebih senang dan semangat untuk bergerak aktif, berlarian, melompat, berbutar putar memanjat dan mengekplorasi apa saja yang ada disekitarnya. Ada juga anak anak yang suka sekali berbicara, bercerita panjang lebar dan bahkan selalu terus menerus bertanya dan mengejar jawaban, sampai sampai ayah bundanya capek untuk menjelaskan. Tidak cukup disitu, ada juga anak anak yang suka sekali jajan, makan dan nyemil yang tidak henti hentinya. Sehari mereka bisa empat sampai lima kali jajan dan sering lupa waktunya berhenti untuk tidak jajan lagi.

Secara umum begitulah anak anak menuntaskan masa kecilnya. Sehingga kebutuhan bermainnya terpenuhi, kebutuhan motoriknya tercukupi, kebutuhan rasa ingin tahunya terjawab semuanya, kebutuhan rasa bahagianya dan kebutuhan apa saja yang ada pada dunia anak anak melewati masa kecilnya yang selalu di ingat dan menjadi kenangan indah saat mereka menjadi dewasa. Dewasa yang alamiah dengan ketuntasan pengalaman masa kecil yang sebenarnya memiliki kenangan dan cerita hebat menjadikan diri kita benar benar matang diusia yang tepat.

Tantangannya muncul saat kebutuhan anak anak untuk bergerak menjadi terbatasi dengan pembelajaran daring. Munculah istilah gabut, mager, dst…. merefleksikan kondisi yang sesungguhnya sedang dihadapi anak anak kita. Mau gerak sedikit sudah disuruh dudk, mau noleh sedikit sudah disusurh fokus, mau ngomong sedikit sudah disusurh diam. Goalnya lahirlah anak anak yang disebut generasi REBAHAN. Karena intesitas duduk mereka lebih lama daripada berlarinya maka lebih baik rebahan saja. Lebih aman dan nyaman direspon orang tua dengan tenang, tidak ngomel ngomel saat anak anak berlarian dan muter muter.

Dampak lahirnya generasi Rebahan ini maka meningkatlah berat badan anak anak secara signifikan. Ada yang naik lima kilo, ada yang naik sepuluh kilo dan bahkan ada yang naik sampai tiga puluh kilo. Tidak terasa kondisi mereka yang dulunya sangat aktif bergerak, berlarian bersepeda dan berkejar kejaran, setelah duat tahun terlewat, mereka sudah berubah mejadi anak anak mager dengan obesitas tanpa batas. Tujuan utama kita menjaga anak anak belajar dari agar sehat dan terhindar dari pandemic namun malah masuk ke permasalah baru yang tidak semua orang tua menyadarinya.

Jadi hari ini kita tidak hanya melawan virus corona yang bisa membahayakan anak anak kita, namun orang tua juga harus mau tahu kondisi anak anaknya dengan memulai gerakan untuk melawan serangan penyakit dengan variant terbaru yang kita sebut dengan virus mager. Antibodinya kembali pada kesadaran dan kepekaan orang tua, dalam melihat tumbuh kembang anak anak dirumah. Kedisiplan dalam belajar haru juga di imbangi dengan kedisiplinan dalam berolahraga, bergerak dan berkeringat.

Solusinya hindari mager, rebahan, atau tidur di dua waktu yang istimewa ini. Yaitu waktu setelah ashar dan waktu setelah subuh. Luangkan waktu setelah sholat subuh untuk rutin berolahraga dan terkena sinar matahari. Dan luangkan waktu setelah ashar untuk mengevaluasi kegiatan beljar dengan berdiskusi dan ngobrol dengan anak anak. insyaAllah anak anak kita bisa terjaga dari segala penyakit dan hidup dengan bahagia bersama keluarga tercinta. Mager No Way !!!

Previous articleKekerasan Pada Anak Di Masa Pandemic
Next articleKenapa Orangtua Tidak Boleh Memaksa Anak Untuk Belajar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here