Home Uncategorized Fobia Hidup Bersama Rasa Takut

Fobia Hidup Bersama Rasa Takut

676
0

Hari ini kami menerima klien laki laki berusia lima belas tahun dengan berat badan 40 kg. sebut saja Alex datang dengan keluhan mengalami ketakutan pada pikirannya sendiri. Secara fisik muncul keluhan dengan tanda keluar keringat dingin, jantung berdebar, kepala pusing, badan dan kaki terasa lemas.

Secara psikis mengalami perasaan takut, cemas, gelisah bila bertemu dengan orang seusianya. Dalam kepalanya selalu muncul pikiran yang terus berputar berulangkali sehingga tidak pernah terselesaikan. Alex selalu memikirkan kejadian yang sudah dilewatinya saat disekolah atau tempat umum. Alex memikirkan bila esok hari ketemu dengan teman atau orang yang seusianya, dia merasa tidak bisa bicara, takut salah dan takut tidak bisa melakukan sesuatu.

Alex selalu berbicara dalam hatinya sendiri saat dia merasa ketakutan dengan orang orang disekitar.

Alex setiap hari mulai aktifitas pagi harinya dengan bangun pagi jam 08.00, kemudian mandi, sarapan, dan membantu ibunya membersihkan rumah sampai selesai. Setelah itu Alex kembali ke kamarnya membuka HP untuk bermain game growtophia atau melihat youtube. Kegiatan bermain game dan nonton youtube ini dilakukan dikamar dengan rebahan. Kegiatan main game dan lihat youtube dilakukan beberapa jam sampai malam hari. Kebiasaan Alex ini dilakukan sejak usia 11 tahun hingga saat ini berusia 15 tahun. Saat ini sudah 4 tahun, Alex memiliki kebiasan sehari hari seperti itu. Hingga usia 13 tahun perilaku Alex muncul perasaan takut dan cemas berlebihan. Sering tidak bisa tidur nyenyak dimalam hari karena muncul ketakutan dalam pikirannya.

Apa yang menyebabkan perilaku cemas dan takut ?

Kasus yang dialami Alex disebabkan karena pola asuh orang tua. Alex dibiarkan memiliki kebiasaaan sendiri di kamar tidurnya setiap hari. Kebiasaan berada dikamar tidur dengan ditemani HP selama sekian jam. Selama dikamar tidur tidak ada teman atau orang lain yang bisa diajak berkomunikasi, berbicara, dan bercanda.

Pola kebiasaan ini memunculkan perilaku senang menyendiri, tidak suka bertemu dengan banyak orang.

Saat Alex keluar rumah untuk berangkat kesekolah maka gejala psikosomatisnya muncul dengan tanda keluar keringat dingin seluruh tubuh, dada terasa sesak dan kaki terasa lemas.  

Bagaimana orang tua membantu anak tersebut ?

Sebagai orang tua kita harus mempunya waktu untuk bersama dengan anak dirumah. Luangkan waktu dirumah untuk berbicara, ngobrol dan bercanda dengan anak. Gunakan waktu sebelum tidur untuk membacakan cerita dan mendoakan anak sebelum tidur. Buatlah jadwal kegiatan dirumah dengan lengkap yang harus dilakukan anak, agar waktu luangnya dapat digunakan untuk kegiatan yang positif daripada hanya berada dikamar tidur saja.

Gunakan terapi SEFT dengan memberikan taping pada titik akupuntur di kepala, diwajah, didada, dan telapak tangan.

Saat pagi hari sebelum beraktifitas mandikan anak dengan menggunakan air dingin, dan pada sore hari mendikan anak dengan menggunakan air hangat. Untuk terapi setiap bulan sekali lakukan bekam kepada Alex agar ketegangan syaraf pada  tubuhnya dapat kembali normal.

Beberapa model bantuan tersebut dapat dilakukan Alex bersama orang tua sesuai dengan pendampingan yang sudah diajarkan oleh tenaga ahli. Kerjasama antara Alex, orang tua dan tenaga ahli adalah hal yang wajib dilakukan. Ketuntasan selama terapi harus kita jaga dengan sebaik baiknya dan kesembuhan itu kita pasrahkan kepada Allah SWT.

Previous articleEnuresis Nokturnal Pada Anak
Next articleFobia Sosial Gejala, Penyebab dan Terapi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here