Home Uncategorized Dampak Terlalu Dini Menyekolahkan Anak

Dampak Terlalu Dini Menyekolahkan Anak

636
0

Anak belajar mengikuti proses perkembangan akal dan fikirannya. Setiap tahapan belajar harus dilalui dengan baik. Cara yang baik untuk melalui tahapan belajar ini adalah dengan memberikan pendampingan dan tempat belajar yang sesuai dengan kebutuhan anak.

Ketika usia bayi anak belajar langsung dengan ibunya. Melalui proses pemberian ASI esklusif, sentuhan lembut orang tua, kata kata positif yang disampaikan, kehangatan keluarga, penggunaan bahasa ibu yang baik, stimulasi otot kaki otot tanangan dan organ motoric dipelajari anak secara langsung dari kedua orang tuanya. Kemampuan dasar seorang bayi dibentuk oleh lingkungan belajar pertama yaitu keluarga.

Bagaimana Tahapan Belajar Anak?

Sejak dalam kandungan, pertama kali seorang bayi belajar adalah dengan mendengar. Kemampuan mendengar bayi sudah ada sebelum lahir kedunia. Maka ajarkanlah anak mendengar dengan baik.

Latih kebiasaan ibu dan keluarga berbicara dengan intonasi yang normal. Hindari berbicara dengan suara keras atau berteriak.

Selanjutnya gunakan kata kata dengan makna positif bukan makna yang negative.

Kedua adalah kemampuan untuk merasakan situasi dan kondisi yang ada disekitar. Bila kondisi seorang ibu sedih maka bayi dalam kandungan juga merasakan kesedihan yang sama. Ketika bayi sudah lahir, dia juga mampu merasakan setuhan dari kedua orang tuanya.

Ketiga, bayi sangat cepat dan mudah  mengingat segala sesuatu yang terjadi disekitarnya. Keluarga sangat berperan menampilkan perilaku yang baik secara berkesinambungan.

Keempat bayi mampu melihat sejak lahir dengan kemampuan yang terus berkembang. Stimulasi penglihatan bayi menggunakan warna yang bervariasi dengan kondisi pencahayaan yang cukup. Karena penglihatan bayi sangat peka terhadapan cahaya disekitarnya.

Kelima bayi belajar dengan meniru segala hal yang dia lihat, dia dengar, dia rasakan setiap perilaku, setiap kejadian yang ada disekitarnya. Seluruh indra sensorinya menyerap informasi dengan cepat.

Keenam, bayi menyimpan semua hal yang dipelajari pada memorinya yang berkembang secara pesat. Memori tersebut tersimpan dengan baik di memori jangka pendek dan juga pada memori jangka panjang. Terakhir , setelah bayi menyimpan semua stimulasi disekitarnya, dia akan mengulangi beberapa stimulasi tersebut secara terus menerus hingga tuntas menjadi perilaku yang matang pada usia nol hingga dua tahun .

Setelah tahapan belajar bayi terlampaui, berikutnya anak akan belajar tahapan praoperasional. Seorang anak berusia satu hingga dua tahun sudah bisa belajar berbicara dengan susunan kata dengan baik. Komunikasi dua arah juga sudah bisa dilakukan untuk saling memahami dengan anak seusianya maupun dengan orang dewasa disekitar. Kemampuan psikomotoriknya belajar dengan berjalan, berlari, melompat, menggenggam, melempar, menarik dan seterusnya sudah berfungsi dengan baik.

Kapan Anak Mulai Belajar Sekolah ?

Setelah perangkat belajar yang dimiliki anak, baik secara fisik dan psikis sudah berkembang dengan optimal dan matang. Maka pada usia dua hingga tujuh tahun anak mulai distimulasi untuk belajar bersekolah di taman kanak kanak. Anak mulai dikenalkan dengan lingkungan social tahap berikutnya. Setelah lingkungan keluarga sudah tuntas dilaluinya, selanjutnya anak belajar pada tahapan berikutnya yaitu lingkungan taman kanak kanak. Anak mulai belajar mengenal individu lain selain keluarganya. Anak juga belajar berinteraksi, bersaing, bekerjasama, berkolaborasi dengan teman teman barunya yang berada dilingkungan baru. Pada proses belajar ini, anak akan mengenal banyak karakter baru dari teman, guru, dan juga semua orang disekitar. Anak belajar bersama pendamping baru yaitu teman, guru dengan situasi baru, dengan cara baru.

Hingga usia tujuh tahun anak akan belajar banyak hal di taman kanak kanak. Ini adalah proses ketuntasan untuk melanjutkan tahapan belajar berikutnya yaitu sekolah dasar.

Bagaimana Dampak Menyekolahkan Anak Terlalu Dini ?

Apabila seorang anak tidak melewati proses secara bertahap , maka akan ada proses yang dilewati. Jika ada proses yang dilewati maka muncul perilaku yang belum matang. Perilaku yang belum matang dan tuntas ini akan menjadi permasalahan pada anak dikemudian hari.

Secara intelektual memang ada anak diusia yang masih belia sudah mempu menyelesaikan banyak hal. Namun disisi lain anak tersebut belum melewati kematangan proses yang lainnya.

kejadian yang umum bisa kita ambil pelajaran adalah anak yang mengalami permasalahan emosi saat masuk sekolah diusia dini (praoperasional).

Mereka mampu menyelesaikan materi soal anak diatasnya namun secara emosi masih belum matang. Sehingga saat ada kompetisi dalam interaksi social anak yang belum cukup umur menjadi emosional dan merasa tidak nyaman dengan teman temannya.

Begitupun saat mereka bermain pada jam istirahat, anak yang belum cukup umur untuk sekolah biasanya menjahui teman sekelasnya karena merasa permainan yang dilakukan teman temannya tidak sesuai dengannya. Dan yang lebih mengkhawatirkan adalah anak yang belum cukup umur menjadi bahan ejekan teman temannya.

Bagaimana Solusinya ?

Sebagai orang tua kita tidak boleh terlalu tergesa gesa, bahkan egois. Merasa anak kita sudah mampu segalanya sehingga tidak perlu melewati proses belajar secara bertahap. Keinginan orang tua, ambisi orang tua untuk menjadikan anak sukses berprestasi lebih capat dapat merusak mental anak itu sendiri. Pada kasus tertentu ada anak yang tidak mau sekolah lagi karena merasa tidak diterima teman temannya. Ada juga anak yang merasa sudah jenuh dengan pelajaran sehingga tidak mau belajar. Anak hanya ingin bermain dan bermain, dia ingin kembali mengambil masa bermainnya yang hilang karena perilaku orang tua yang kurang sabar menanti proses belajar hingga matang dan tuntas.

Jadi tuntaskan masa anak anak dengan sebaik baiknya, penuhi kebutuhan anak sesuai dengan usia perkembangannya hingga tuntas. Sehingga pada saatnya nanti mereka menjadi orang tua yang dewasa, bukan orang tua yang kekanak kenakan.

Previous articleDampak Berteman Dengan Tiktok
Next articleDisgrafia, Gangguan Menulis Pada Anak

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here